Sabtu, 30 Mei 2015

Pikir-pikir Dulu



PIKIR-PIKIR DULU
Sebut saja namanya Tina.Ia telah menikah dengan suaminya selama 5 tahun dan dikaruniai 2 anak. Tapi ternyata suaminya telah selingkuh sejak ia hamil anak pertama. Hal ini membuatnya terpukul bahkan jauh lebih sakit karena suaminya selingkuh dengan adik sepupunya kawin lari dan menghilang entah kemana. Sepuluh tahun telah berlalu, namun hatinya masih penuh dengan kebencian.
Seorang anak wanita yang penuh dendam kepada pembunuh ayahnya akhirnya bisa mengampuni setelah 30 tahun berada dalam kebecian. Haruskah selama itu kita hidup dalam dendam dan kebencian. Mengapa kita harus menunggu lama atau pikir-pikir dulu untuk mengampuni orang lain?
Saya saat ini sedang berusaha meyakinkan teman saya yang belum mengenal Tuhan agar ia mau mengampuni mantan suaminya yang mengkhianati dan membawa pergi hartanya. Memang dari mulut ia berkata “Saya sudah melupakannya.” Tetapi setiap kali ia mendengar nama suaminya, ia marah, ia jengkel, dan hatinya dipenuhi dengan kebencian. Ini pula yang membuat dia selalu berpikiran negative tentang pria yang berusaha mendekatinya.
Guys, mengampuni kesalahan orang lain, mengasihi musuh, dan melupakan semua kejahatan yang mereka lakukan, akan melepaskan kita dari ikatan iblis yang tidak nyaman dan hanya membuat kita terkurung dalam masa lalu yang pahit. Suasana hati kita jadi rusak sehingga setiap hari yang baru menjadi hari yang buruk buat kita. Kita justru rugi sendiri jika membiarkan kebencian itu akan berakar dan akan menguasai kita. Jadi, lebih baikcabut kebencian itu sebelum ia berakar lebih dalam lagi.
“… Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” (Lukas 6:27)
Doa: Tuhan, saya mau mengampuni siapa pun yang pernah menyakiti saya agar hati saya dipenuhi dengan damai sejahtera-Mu.

Aku Tidak Sendiri



AKU TIDAK SENDIRI
Sebuah ilustrasi menceritakan tentang seorang anak yang berjalan dengan ayahnya. Lama kelamaan anak ini capek. Lalu yang tadinya bayangan jejak kaki terlihat di tanah empat, sekarang jadi dua. Hal ini bukan berarti ayahnya yang jalan sendiri, atau sang anak berjalan sendiri. Namun sekarang sang ayah manggendong anaknya, maka yang terlihat hanya jejak kaki ayahnya.
Guys, pernahkan kita merasa sendiri ketika menghadapi kesulitan? Dalam hidup, kita seringkali merasa sendiri, dan bertanya-tanya dimana Tuhan ketika kita mengalami kesusahan. Karena merasa beban kita sangat berat akhirnya kita tidak bisa melihat dan merasakan bahwa Tuhan yang menggendong kita dan menanggung beban itu ada bersama kita. Yesus adalah Imam Besar kita, yang pada saat kita mengalami pergumulan, maka Dia juga turut merasakannya. Dia bukan Tuhan yang membiarkan kita memikul segala sesuatu sendirian. Firman Tuhan dalam Ibrani 4:15 mengatakan, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemana kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Yesus juga merasakan kelemahan kita, Dia juga dicobai sama seperti yang terjadi pada kita.
Jika hari-hari ini kita merasa ujian semakin berat, masalah semakin banyak dan kompleks, bersukacitalah karena kita tidak sendirian menanggungnya. Imam Besar yang kita punya bukan imam besar biasa, Dia yang memikul dan menanggung beban itu bersama kita. Dia Imam Besar yang mengatakan pada kita ketika kita lemah, “Ayo Nak, bangkit dan berjalan lagi, kamu pasti bisa bersama dengan-Ku….”
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15)
Doa: Terimakasih, Tuhan… Penyertaan-Mu membuat aku kuat menanggung semua masalahku. Amin.

Jumat, 29 Mei 2015

Perkataan Yang Mengubahkan



PERKATAAN YANG MENGUBAHKAN
Seorang anak cacat yang kesehariannya hanya duduk di kursi roda dan berjalan-jalan di sekitar komplek rumahnya ternyata bisa membawa perubahan besar bagi warga di sana. Ketika seorang polisi yang dipecat karena difitnah oleh mitranya sendiri bertemu dengan anak cacat ini, ia berkata: “Pak, wajah Anda jauh lebih berseri sejak tidak memakai seragam. Itu karena berhasil menjadi tukang kebun yang baik hati.”
Yah mantan polisi itu akhirnya menjadi tukang kebun di komplek perumahan itu. Dan perkataan itu memotivasi mantan polisi itu untuk menjalani hidupnya dengan penuh sukacita. Anak cacat ini pula membuat seorang janda yang ditinggal selingkuh oleh suaminya, batal bunuh diri hanya karena perkataan anak cacat itu, “Nyonya Steel, saya senang melihat anak-anak Anda. Mereka sangat baik seperti ibunya. Anda sangat beruntung memiliki mereka.”
Guys, anak cacat ini baru berusia 12 tahun, namun namanya telah menjadi kesaksian bagi banyak orang yang berada di komplek perumahan dimana ia tinggal. Perkataannya sangat sederhana dan ia sama sekali tidak pernah tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, perkataannya sangat memberkati, membuka mata dan pikiran banyak orang dan memotivasi mereka yang sudah putus asa.
Guys, untuk menjadi berkat melalui perkataan, kita tidak usah mengetahui masalah orang lain terlebih dahulu baru memberikan kata-kata nasihat atau yang memotivasi. Senyuman kita, sapaan kita dan pujian tulus kita bisa mengubah orang-orang yang ada di sekitar kita. Perkataan sederhana yang bermutu dan sikap yang menjadi contoh mampu mengubah semua kesedihan dan keputusasaan menjadi sukacita dan pengharapan.
“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu ….” (1 Timotius 4:12).
Doa: Bapa, pakai aku melalui perkataan dan perbuatanku agar aku bisa menjadi berkat buat sesamaku.